Standard

Gadis di Parangkusumo

Namaku Arnawama. artinya samudra. Ibuku dikenal sebagai penguasa laut selatan. Beliau bersuamikan raja – raja Jawa, yang datang dan pergi silih berganti. Nampaknya pernikahan Ibu dengan bangsa manusia memang ditakdirkan tidak untuk selamanya. Umur manusia memang lebih pendek, bahkan sangat pendek dibanding umur kami yang bisa mencapai ribuan tahun. Para raja Jawa memiliki motif tertentu ketika menikahi Ibu. Salah satunya adalah mereka berharap kerajaan mereka dijaga Ibu. Ibu ku adalah wanita perkasa, memiliki pasukan berjumlah puluhan ribu mahluk yang sangat kuat. Dan sudah tentu pasukan tersebut tidak dapat dilihat manusia. Ibuku menjaga kerajaan-kerajaan Jawa dari serangan kerajaan lain, negara lain, bahkan jenis mahluk hidup lain. Jika sejarah mengatakan Majapahit runtuh karena perang saudara, maka bisa kukatakan bahwa alasan sesungguhnya runtuhnya Majapahit adalah karena pewaris tahta Majapahit kala itu adalah seorang wanita. Tentu saja ibu tidak akan menikahi wanita, terlebih lagi Ratu Suhita (pewaris tahta majapahit kala itu) menolak menunjukkan sikap hormatnya pada Ibu. Dia menolak meneruskan tradisi Larung Sesajen di laut. Dan tradisi-tradisi lain yang dilakukan keluarga kerajaan sebagai bentuk penghormatan pada Ibu. Ibu murka. Maka sejak itu Majapahit terus dilanda perang saudara dan terpecah belah. Akhirnya sejarah mencatat bahwa sisa-sisa kerajaan Majapahit berhasil dikalahkan oleh Raja Demak, kala itu Raden Patah. Kemenangan Raden Patah adalah campur tangan Ibu sebagai istri Raden Patah.

Aku adalah satu-satunya putra Ibu, hasil pernikahannya dengan bangsa bukan manusia. Setelah ayah mangkat itulah Ibu mulai menikah dengan manusia, meskipun aku kadang bertanya apakah Ibu sungguh mencintai lelaki-lelaki yang dinikahinya. Ibu memang misteri bagiku, bahkan bagi Jagad dunia saat ini. Pernikahan ibu dengan manusia tidak bisa menghasilkan keturunan. Maka bisa dibayangkan betapa Ibu sangat menyayangi dan menjagaku. Ibu berharap, suatu saat ibu mangkat (yang entah kapan, bahkan mungkin tidak akan pernah terjadi kecuali dunia kiamat) aku akan mewarisi tataran kerajaan Laut Selatan. Istana kami memang dibawah laut, namun wilayah kekuasaan kami meluas ke daratan dan udara. Jauh melampaui daya pikir manusia. Bahkan di tanah yang disebut manusia sebagai tanah mereka, sesungguhnya kaum kami turut berdiam disana. Tentunya sesuai kesepakatan bahwa kami tidak akan mengganggu selama manusia juga tidak mengganggu kami.

Sosokku menyerupai manusia pada umumnya. Rupa ku tampan. Kata Ibu, ketampananku diturunkan dari ayah. Ayahku adalah salah seorang dewa penguasa petir. Demi menikah dengan ibu yang bukan keturunan dewa, ayah rela melepas identitas dewanya. Dan tentu setelah tidak lagi menjadi dewa, maka ayah menjadi tidak abadi, meskipun umurnya tetap terbilang panjang bila dibandingkan manusia biasa. Ayah mangkat setelah 147 tahun pernikahannya dengan ibu. Aku sendiri berumur nyaris 370 tahun. Dalam rentang hidup itu kulihat kehidupan manusia silih berganti dari beragam generasi. Penampakan manusiawiku serupa lelaki berumur 20 tahun. Kata ibu, aku ada di fase remaja. Aku pun tidak paham bagaimana menterjemahkan diriku dalam genetis manusia. Aku tampan, tinggi, dengan kemampuan pikir yang tentunya diatas manusia rata-rata. Aku nyaris abadi. Aku mewarisi sedikit kelebihan kedewaan ayah yang ternyata masih tersimpan dalam gen nya meski dia sudah tidak menjadi dewa. Aku bisa menghadirkan petir dan hujan sesuka ku. Aku juga mewarisi kekuatan fisik dan kemampuan tempur ibuku. Aku bisa hidup di darat, di udara, dan di air. Sosok ku bisa terlihat bisa juga tidak, tergantung inginku saja. Dan satu kekuatan lainnya yang tidak tahu kuturunkan dari siapa adalah aku bisa berubah menjadi sesosok kuda terbang. Ya, kuda terbang yang biasa disebut manusia sebagai Kuda Sembrani, atau Pegasus, atau unicorn, atau apalah itu. Aku lebih suka kalau disebut pegasus, rasanya nama itu lebih unik dibanding ‘Kuda terbang’. Aku jarang menggunakan kekuatan terbang itu, karena ketika aku berubah menjadi pegasus, sosok pegasus ku bisa dilihat oleh manusia. Sangat riskan.

Pantai Parangkusumo. Pantai ini adalah tempat favorit ku di kala senggang. Ya, bahkan Putera Mahkota pun butuh istirahat bukan? Ketika tidak sedang membantu Ibu dalam tugas tata pemerintahannya, aku selalu ke tempat ini. Parangkusumo tidak ramai dikunjungi orang, karena mereka tahu ada palung dalam laut didekat pantai. Siapapun yang terseret ombak akan langsung terperangkap dalam palung itu, tidak akan pernah kembali ke permukaan bahkan jenazahnya. Parangkusumo dikelilingi tebing – tebing yang mengagumkan. Kadangkala aku memanjati tebing-tebing itu, sendiri. Seringkali kutakut-takuti pemanjat tebing yang melukai dinding-dinding tebing kesayanganku ini dengan peralatan panjat tebing mereka. Sehingga mereka enggan kembali ke sini. Kalau tidak bisa memanjati dengan bersih dengan tangan kosong, lebih baik tidak usah memanjati tebing-tebing ku.

Beberapa bulan ini aku lebih sering ke Parangkusumo. Pada jam tertentu, hari tertentu. Ada sesuatu yang kutunggu. Seperti hari ini. Ya, itu dia. Gadis itu cantik. Wajahnya menenangkan seperti wajah ibuku. 370 tahun hidup ku, baru kali ini kutemukan wanita yang demikian memukau. Kurasa Ibu adalah satu-satunya referensi ku akan sosok wanita, maka aku langsung tergugah ketika melihat sosok yang mirip Ibu. Dia sering duduk dan bersenandung di salah satu batu karang. Tidak dihiraukannya angin malam di pantai yang dingin. Pantai ini demikian gelap kala malam. Tidak banyak nelayan yang berangkat melaut dari pantai ini. Gadis pemberani, pikirku.

Gadis ini selalu datang pada hari rabu, duduk dan bersenandung kadang sedih kadang riang, lalu pergi dua jam kemudian. Malam ini pun sama, gadis itu datang menuju salah satu batu karang. Langkahnya agak gontai hari ini. Dan lihat, dia berjalan menunduk saja tidak melihat arah. Aku melihatnya dari kejauhan.

“hati-hati wahai gadis cantik, kamu sudah terlalu dekat dengan air. Bukankah kamu tahu kalau pantai ini seringkali kedatangan ombak yang tiba-tiba besar, mampu menyeret apapun didekatnya.” Desisku khawatir dalam hati.

Dan benar, belum selesai batinku berdesis, segulungan ombak mendekat mengagetkan gadis itu. Dia tidak sempat menghindar. Tergulung ombak setinggi 2 meter lalu terbawa pergi dari pantai.

Aku kaget bukan kepalang melihatnya, refleks aku berubah menjadi pegasus. Kulintasi cepat tempat gadis itu hilang menuju arah lautan, samar kulihat ombak masih menggulungnya. Aku bersyukur karena kalau dia sudah terlepas dari ombak, akan lebih sulit mencarinya di palung. Meskipun aku punya banyak prajurit yang bisa menemukan gadis itu dalam hitungan menit, tapi aku tidak yakin dia akan bertahan hidup pada tekanan udara tinggi di bawah laut. Aku menukik tajam kearah gelombang, menyambar gadis cantik yang sudah tidak sadarkan diri. Kuletakkan dia dipunggungku, membawanya terbang menuju pantai.

Kuletakkan dia di pasir, wujudku kembali berubah menjadi manusia. Kutepuk-tepuk pipinya agar dia tersadar. Gadis itupun membuka matanya.

“Aku, dimana? Aku terbang. Aku…” celotehnya linglung.

“Tenanglah, kamu tadi terseret ombak. Aku melihatmu dan menarikmu sebelum terseret jauh.”

“Kamu… bisa melihatku dalam keadaan segelap ini. Hebat. Terima kasih.” Jawabnya masih linglung.

“Mari kuantar pulang.”

“Tidak usah aku pulang sendiri saja.”

“Kuantar.”

“Terserah.”

Dan aku mengantar gadis itu menuju rumahnya.

“Apa yang kamu lakukan malam-malam in dipantai?” Tanyaku membuka pembicaraan.

“Kamu sendiri, apa yang kamu lakukan?”

“Aku, sedang mencari suasana tenang saja. Kamu tahu kan kalau disini ada palung yang dalam, kamu bisa mati kalau terseret kesana. Jangan terlalu dekat air.” Nasehat ku seperti nenek-nenek pada cucunya, padahal dia gadis yang belum kukenal

“Aku kesini setiap hari Rabu. Mengenang ayahku. Dia nelayan yang hilang ditelan lautan dua bulan lalu. Mestinya ayah kembali membawa hasil tangkapannya, namun dia tidak pernah datang. Saat itu hari Rabu. Sejak itu kami sekeluarga mengikhlaskan bahwa ayah telah tiada. Eh namamu siapa?” Tanyanya tiba-tiba, mengagetkanku yang sedang menekuni kisah ayah yang diceritakannya.

“Arnawama.”

“Wah, keren. Seperti nama pangeran penguasa laut selatan.” Jawabnya riang.

“Hah?” Aku kaget.

“Iya. Kamu bukan asli daerah sini ya? Lautan kami konon dikuasai dan dijaga oleh Ratu Laut Selatan. Menurut kabar, beliau memiliki seorang putra yang sangat tampan. Arnawama namanya. Artinya samudra.” Jelasnya panjang lebar. Aku menghela nafas lega, tadinya kukira dia mengetahui identitasku.

“Namamu siapa?” Tanyaku berusaha mengalihkan dari topik pembicaraan tentang keluargaku.

“Galuh.”

“Nama yang cantik.”

“Iya dong, sesuai aku yang juga cantik.” Jawabnya seenaknya penuh percaya diri. Kami tertawa terbahak. Hatiku hangat.

– – – – – –

Ibu, kurasa aku jatuh cinta. Pada manusia. Mungkin perasaan yang sama yang dirasakan Panembahan Senopati ketika jatuh cinta pada ibu di Pantai ini. Ibu restui aku…

– – –


http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/beach/parangkusumo/

Advertisements

2 thoughts on “Gadis di Parangkusumo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s