Standard

DAG DIG DUG

Setelah kisah penaklukan newbie unyu yang kandas karena faktor kekeluargaan, hari ini, aku akan menegakkan kembali eksistensi ku: ‘Joni – penakluk para anak magang unyu’.

Namanya Yudita, cantik, tinggi, pintar. Sedang menyusun skripsi. Yaa sedang lucu-lucunya itu. Masih mudah dibohong-bohongi Bang Joni ini. Menurut butir 5 primbon kode etik Joni si penakluk : Setelah fase kenalan, segera ajak gebetan jalan berdua. Kalau tidak, anda akan terjebak dalam hubungan pertemanan saja. Males kan dengar kata-kata, “kamu baik tapi aku anggap kamu sahabat dekat, kita ga mungkin pacaran bla blaaaaa..”

Maka dari itu, kujadwalkan (lebih tepatnya kupaksakan) sore ini sepulang kantor jalan berdua dengan Yudita.

“Mas Jon, nanti sore jadi pergi kan kita?” Aaiiiiiih tetiba newbie cantik ini sudah berada didekatku.

“Jadi dong ditaaaa.” Jawabku centil sok kalem. (Imajinasikan sendiri, bahasa lisan dan bahasa tubuh macam apa itu).

“Nanti naik mobil ku aja ya mas Jon. Bisa nyetir kan?” Aaaaah bawa mobil pula. Enak ini, pacaran bakal adem selalu naik mobilnya.

“Baik ditaaaaa.” Jawabku masih centil sok kalem.

Dan jadilah sore ini aku menyupiri Yudita. “Kemana kita, bagaimana kalau nasi goreng gila di Situ Lembang?” Usulku, dengan harapan aku dan dia makan nasi gila sore-sore dengan suasana taman yang romantis namun tetap privat karena di dalam mobil saja.

“Hah, yang di Menteng itu? Ga ah. Nanti diare.” Tolak Yudita. “Pancious PP aja, aku pengen ngemil cantik.”

Blahhh Pancious. Ngemil cantik. Satu porsi di pancious sama dengan harga 5 porsi nasi gila. Belum lagi minum nya. Itu katanya cemilan, lalu kalau makan besar apa dong Non..

“Mas, mampir pom bensin situ ya. Aku belum isi bensin tadi. full ya mas.” Yudita berkata manja padaku.

Kulihat dari spion, petugas SPBU selesai mengisi bensin, aku menanti Yudita memberi uang bensin padaku. Begitulah biasanya pengalamanku isi bensin kendaraan teman-teman wanita yang kusupiri.

Petugas mengetuk kaca jendela, “130 ribu mas.” Katanya. Aku gelagapan melihat petugas SPBU, lalu ganti kulihat ke arah Yudita, dia hanya tersenyum manis padaku. Tidak ada sedikitpun gerakan yang menunjukkan akan memberikan uang padaku. Berat hati kubuka dompet, kulihat tinggal tiga lembar uang seratus ribu yang biasanya cukup untuk makan tiga kali sehari selama seminggu.

“Makasih ya mas Jon.” Yudita tersenyum manis, manja. Rasa tidak rela ku mereda. Berganti gemas melihat wajah lucunya.

“Sudahlah, PDKT memang butuh pengorbanan.” Batinku.

Pancious PP sepi sore ini, tepat untuk menorehkan jejak lope-lope di hati Yudita manis, pikirku.

“Saya pancake blueberry satu, fettucine yang duck mushroom satu, minumnya thai ice tea. Oh iya untuk dibungkus satu fettucine carbonara ya.” Cerocos Yudita pada pelayan.

“Saya, kopi item anget satu. Ga pesen makan.” Kataku.

“Kamu makannya banyak, biasanya cewe-cewe takut gendut.”

“Yaaaa, mumpung di traktir Mas Jon. Oiya Aku tadi cuma pesen satu porsi untuk dibungkus, boleh ya aku pesan satu porsi lagi, jadi dua porsi. Lumayan untuk adik-adikku nyemil nanti dirumah. Mas Jon mau traktir nonton juga kan? Pernah nonton di premiere velvet ga, itu keren loh mas. Eh iya body shop juga lagi diskon mas.. Bla bla bla…” Suara Yudita terdengar menjauh dari pusat kesadaranku.

Hatiku Dag dig dug, dompetku cenat cenut.

Advertisements

3 thoughts on “DAG DIG DUG

  1. Besoknya si Joni yang sudah kehabisan duit, akan berhenti mengejar cewek-cewek lagi :p Atau mungkin ada tipe cewek lain yang akhirnya nyantol ya.
    Lucu :))
    Btw, tiga lembar ratusan ribunya tuh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s