Standard

Halo siapa nama mu?

Cantik, iya. Tinggi, iya. Tidak tulalit, dilihat dari caranya presentasi, iya. Baiklah, berarti sudah memenuhi semua kriteria untuk aku – Joni, si penakluk para anak magang unyu – ajak kenalan.

Aku bergegas melangkah ke Departemen sebelah. Sebelum para lelaki sainganku berkenalan lebih dulu, harus aku yang pertama meninggalkan jejak lope-lope (baca: love) di hati nya. Ejiyee Joni.

Tapi ruang departemen sebelah ternyata kosong, nampaknya mereka sedang ada rapat internal. Ah aku kecewa. Tapi tak apa, masih bisa nanti sore, atau besok pagi untuk kenalan dengan newbie unyu itu.

Sore hari, newbie unyu tidak nampak diruangnya. Aku menahan diri untuk tidak bertanya pada rekan sebelah cubicle nya. Joni si penakluk selalu menjaga citra. Butir satu dari primbon kode etik Joni si penakluk: “Kalau YBS belum mendapat sinyal lope-lope langsung dari Joni, maka orang lain juga tidak boleh tahu.” Ini nama nya fase gerakan bawah tanah.

Esok hari keberuntungan belum berpihak pada ku. Lusa juga masih belum bisa kutemui newbie unyu itu di ruangnya. Tidak juga di kantin, mushola, toilet, aaahh aku mulai frustasi. Ini pelecehan terhadap gelar ‘penakluk anak magang unyu’ yang ku sandang.

Hari keempat, Dewi Fortuna mulai baik padaku, sore hari pulang kantor kulihat bayangannya di lobby luar. Hujan deras saat itu, Dia sedang membuka payung hendak melangkah keluar. Aku bergegas mengejarnya sembari berteriak, “Tungguuuuuu..” dengan dramatis. Aku berkhayal teriakan itu akan berefek seperti sinetron, dimana artis wanita akan menengok dengan elegan lalu pandangan kami bertumbukan dan dia jatuh cinta pada pandangan pertama.

Tapi boro-boro dia menengok, yang ada aku dikerubuti pasukan krucil ojek payung. Ah, sesalku. Maka kuputuskan mengejarnya dibawah derai hujan. Mungkin dia akan iba melihatku lalu menawari berpayung bersama. Tapi asa ku hilang lagi ketika kulihat dikejauhan dia masuk mobil yang kemudian menderu pergi. Meninggalkanku Joni -si penakluk anak magang unyu, di bawah hujan. Aku basah, merasa konyol, dan nyaris patah hati.

Tiba dirumah, hatiku masih kesal tak karuan. Tetiba kulihat sosok newbie unyu itu di ruang tengah. Menonton tv dengan Mama. Aaah Mama, kenapa tidak pernah bilang kalau wanita yang hendak kau jodohkan denganku secantik ini. Mama tersenyum melihat ku datang. Newbie unyu itu juga tersenyum manis padaku

“Jon, kenalin ini Adiknya mama. Tapi lebih muda dari kamu loh. Eyang uti punya adik bontot namanya Eyang Sumi. Nah ini anak bontotnya Eyang Sumi. Berarti kamu panggilnya Tante ya. Hayoo salim.”

Aku mengulurkan tangan. Benakku mengapung menjauh dari harapan lope-lope. Ini judulnya patah hati sebelum berkembang.

“Halo siapa namamu, Tante?” Tanyaku padanya sambil meringis, perih.

Advertisements

8 thoughts on “Halo siapa nama mu?

  1. Pingback: [#15HariNgeblogFF] Daftar tulisan judul [1] Halo, siapa namamu? « Philophobia

  2. Kejadian kek gini juga pernah dialami oleh kakakku.
    Tante kecil kami, sepupu dari ibu, usianya dibawah kakakku. Hampir saja naksir, untung gak sempat jatuh cinta 🙂

    • Ffiiiuhhh untung ga sempat jatuh cinta yaa ^^
      (kalo itu kejadian di keluarga ku ~ naksir tante kecil walau jaauuuuh scr silsilah, bisa2 di omelin berjamaah sekeluarga besar)

      Btw trimakasih sudah baca 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s