Standard

Pelangi di Whangarei

Radit, nama lelaki kecil ini. Umurnya lima tahun. Dia berdiri tak sabaran di parkiran penginapan berbalut jaket tebal, topi hangat dan sarung tangan. Wajahnya cemberut, kutahu karena dia tidak suka menungguku berdandan terlalu lama, dan dia tidak suka memakai pakaian tebal ditengah cuaca whangarei yang sedang hangat. Sesekali ingus mengalir dari hidung mancungnya, salah satu jejak menurun dari ayahnya yang berkebangsaan Australia. Disekanya cairan itu dengan sapu tangan, sesekali dengan tangan bersarung nya jika malas mengambil sapu tangan di saku nya.

Whangarei di musim Juli, sudah masuk musim dingin disini. Suhu udara sekitar 3 – 8 derajat celcius. Cuaca Whangarei sulit diprediksi, itulah sebabnya aku memaksa Radit tetap menggunakan pakaian berlapis walau cuaca sedang hangat. Pengalaman ku cuaca bisa saja terang benderang, namun sepuluh menit kemudian mendadak hujan dan dingin. Atau bisa saja kita  berangkat dalam keadaan hujan deras, menggunakan pakaian hujan lengkap dengan payung, namun tetiba di tempat tujuan hujan berhenti dan langsung terang. Membuat siapapun dalam pakaian hangat akan terlihat salah kostum. Untuk radit, aku tidak berani ambil risiko. Apapun yang terjadi, harus tetap menggunakan pakaian hangat jika keluar ruangan, aku tidak ingin pileknya semakin parah. Radit sulit beradaptasi dengan perubahan cuaca, ketika berpergian dari satu kota ke kota lain yang memiliki karakteristik cuaca berbeda, dia akan pilek. Hanya pilek memang, tidak disertai demam atau gejala flu lainnya. Dokter menyebutnya sebagai usaha tubuh untuk beradaptasi dengan perubahan cuaca. Katanya ingus adalah reaksi dasar tubuh dalam mengantisipasi cuaca dengan kadar kelembapan rendah. Biasanya aku membawa minuman jahe bentuk serbuk, yang di percaya leluhurku dapat menghangatkan dan menjaga stamina tubuh. Jikalau Radit pilek, jahe hangat itu andalanku untuk Radit minum.

Satu hal yang menyenangkan di whangarei adalah Pelangi. Kapanpun selesai hujan, pelangi dengan mudahnya muncul disini. Kurasa memang hujan disini tidak ditakdirkan berkesan suram muram (atau berkesan banjir dan macet seperti di Jakarta, kota asalku).

Radit menunjukkan wajah semakin tidak bersahabat, sudah tidak sabar ingin segera tiba di service area. Asia Pacific Rally Championship 2011 putaran 4 bertempat di Whangarei, New Zealand. Hari ini pelaksanaan LEG 1, terdiri dari 8 Special section (SS) dari total 16 SS dengan jarak tempuh total 700,66 KM . Radit sama sekali tidak terlihat lelah. Kemarin kami berkeliling seharian dengan mobil sewaan, mengikuti peserta yang melakukan survey lintasan. Dua hari sebelumnya kami menempuh penerbangan Sydney – Auckland selama 3 jam, dilanjutkan jalan darat Auckland – Whangarei selama hampir 4 jam. Staminaku rasanya terkuras, tapi anak kecil itu masih seperti bola bekel yang siap membal kesana – kesini dengan gembira. Aku bukan penyuka rally. Semangat dan bujuk rayu Radit sejak tahun lalu yang menyebabkan kami akhirnya tiba disini. Sebenarnya kalau yang dicari hanya kegiatan rally, maka Canberra rally akan lebih mudah kami jangkau. Canberra hanya 3 jam perjalanan darat dari Sydney.

Tapi bagi Radit, Rally of New Zealand adalah suatu moment berharga.  Rally terakhir yang diketahui Radit telah merenggut nyawa ayahnya, 4 tahun yang lalu.

Kami bergandengan tangan menuju mobil, tangan kecil Radit sesekali menyeka ingus yang nampaknya semakin sering turun.

“Ingus kamu sepertinya semakin banyak, kepalanya pusing?”

“Tidak mama, aku sehat. Cant you see that I am okay?” Jawabnya dengan wajah berbinar. Kubalas dengan usapan dikepala nya. Jagoan kecilku, separuh jiwaku. Tuhan, Jagalah Radit selalu. Doaku dalam hati.

——-

Radit girang tak kepalang ketika tiba di service area. ID Card Gold yang kudapat dari seorang teman baik memungkinkan kami berada di wilayah paling dekat dengan para perally. Radit sibuk berkeliling dengan kamera saku, mengambil foto disana sini, sesekali melambaikan tangan pada para perally dan navigatornya.

“Mama, itu dari Indonesia. Kemarin mereka yang tercepat di APRC Jepang. Kalau hari ini mereka lagi yang tercepat, mereka bisa naik podium.”  Radit memaparkan fakta sambil menunjuk Team Pertamina Cusco Indonesia.

“Mama, itu ada satu lagi dari Indonesia.” Kali ini tim Semen Bosowa Indonesia. Aku mengusap – usap kepalanya. Ikut merasakan antusiasmenya.

Tim Pertamina Cusco Indonesia, pada service area. Radit melambaikan tangan pada mereka penuh semangat.

“Mama, kalau setelah ini kita mengikuti mereka ke beberapa special stage, mungkinkah?”

“Dicoba ya, tapi kalau rutenya sulit kita berhenti. I am not a good driver .”

“Indeed. You have to study harder in driving lesson” Jawabnya lucu sembari menjulurkan lidah menggodaku, yang kubalas dengan cubitan di pipinya.

Sesuai janjiku, aku berusaha mengikuti rute beberapa special stage, mencari lokasi dengan sudut pandang paling asyik, menanti para peserta lewat . Dari pinggir jalan Radit melambaikan tangan kepada setiap team yang lewat. Sesekali terpekik dan menggenggam tanganku erat ketika peserta harus melewati rute terjal berbahaya. Lalu kembali bertepuk tangan dan berteriak kegirangan ketika mereka berhasil melewati rintangan.

“Mama, itu dari Indonesia. Mereka keren juga bisa lewat rute terjal itu.” Aku tersenyum.

“Mama, kalau dulu papa berhati – hati seperti mereka, mungkinkah papa akan tetap hidup hingga saat ini?” Aku menggenggam tangan Radit erat, tidak berkata – kata.

Hening muncul diantara kami. Mata Radit terus memperhatikan jalanan. Aku tahu, dia memendam rindu dan rasa ingin tahu yang sangat dalam tentang ayahnya.

Lalu kami tiba di special stage 2 (SS2), di daerah bulls. Di SS2 sepanjang 40,63 kilometer yang merupakan trayek terpanjang di Rally of New Zealand. Radit melihat kejadian kurang menyenangkan. Kendaraan tim Indonesia Pertamina Cusco mengalami kecelakaan pada tikungan di kilometer 21,5. Mereka berusaha menghindari balok besar di jalan menurun yang sangat licin. Akibatnya mereka menabrak tanggul disisi kiri, kemudian terbalik hingga keempat rodanya berada diatas. Radit melihat kejadian tersebut dari jarak 10 Meter. Tangannya menggenggamku erat, melihat salah satu tim yang dijagokannya terbalik.

“Mama, apakah orang – orang didalam mobil itu selamat?” Tanyanya pelan dan mulai memelukku.

“Semoga sayang, semoga. Kita doakan semua selamat.”

Menit – menit selanjutnya menurut kami berjalan sangat lambat, menanti tim penyelamat tiba. Ketika akhirnya dua orang dalam mobil itu dapat dikeluarkan dengan selamat, Radit tersenyum lega. Akupun demikian. Rasa nya sangat mengerikan apabila anak seusia Radit harus melihat kecelakaan yang merenggut nyawa seseorang.

Hasil jepretan Radit pada kamera saku nya saat tim Pertamina Cusco terbalik di SS 2

Tapi senyum itu hanya berlangsung sebentar. Sesudah kecelakaan atas tim Indonesia yang dilihatnya, Radit menjadi pendiam. Pada SS berikutnya dia tidak banyak berkomentar. Kami baru tiba pada SS 4, namun dian sudah mengajakku pulang. Antusiasmenya mendadak sirna. Kupegang dahi nya agak hangat.

“Are u okay? How about your throat? Is it okay?” Panik ku muncul.

“That’s ok. Mam.” Jawabnya pelan sambil memalingkan wajah.

Kulihat sedikit sisa air mata di dekat hidung dan pipinya. Dia menangis, namun aku tidak berani bertanya. Aku tahu penyebab tangisnya, yang aku takutkan adalah percakapan yang mengarah pada kecelakaan ayahnya.

“Okay, dear. Let’s go. I think we need some rest.” Ajakku.

Sepanjang perjalanan menuju penginapan, Radit hanya diam. Kami mampir makan siang di kedai Pizza. Radit makan tanpa bersuara, padahal biasanya dia berceloteh macam-macam meski mulutnya penuh. Setiba di penginapan, Radit berganti pakaian dan langsung menuju tempat tidur, tanpa menciumku terlebih dahulu seperti biasanya. Dia tidur sepanjang siang hingga malam. Bangun hanya untuk makan malam, setelah itu dia bersiap naik tempat tidurnya lagi. Kuintip, dia tidak langsung tertidur. Matanya menatap langit-langit, dan terlihat air mata lagi mengalir di pipinya. Ingusnya turun semakin banyak, aku semakin khawatir. Ketika menyadari kehadiranku, dia berpura – pura tidur hingga akhirnya tertidur sungguhan. Kupegang dahinya, terasa lebih hangat ketimbang siang tadi. Rasa khawatirku semakin memuncak.

Tengah malam Radit mengigau, juga menangis dalam tidurnya. Sesekali berteriak, sesekali berkata lirih. Namun satu kata yang bisa kutangkap dan terucap dalam berbagai intonasi itu sama: “Papa.” Aku bangunkan Radit dari mimpi buruknya, dia menangis tergugu ketika sadar. Kupeluk dirinya, dan dia bertanya lirih.

“Mama, apakah sebelum meninggal Papa kesakitan, terjepit setir atau kursi atau apapun yang tidak dapat ditanggungnya? Mama, seberapa besar luka yang papa alami, Mama itu mungkin sakit sekali. Karena tadi aku lihat mereka yang mobilnya terbalik sangat menyeramkan. Kenapa mereka bisa selamat tapi Papa tidak. Mama…..”

Aku tak kuasa menjawab. Air mataku menetes. Penuh rasa bersalah kepada Radit. Kuberi dia parasetamol untuk meringankan nyeri yang dia rasakan saat ini. Mungkin di hidung, di kepala, atau dimanapun. Sesungguhnya aku berharap parasetamol dapat menghilangkan luka di hatinya, tapi sepertinya itu khayalanku belaka.

Pukul 1 dini hari Radit mengigau semakin sering, kuukur suhu tubuhnya dengan thermometer, 39,2 derajat celcius. Termasuk demam tinggi bagi anak seumurnya. Kulakukan berbagai cara untuk menurunkan suhu tubuhnya, mengompresnya, memberinya parasetamol lagi, memeluknya agar hangat dan tidak merasa sendirian dalam mimpi buruknya. Apapun agar Radit terbebas dari sakit yang dirasanya, fisik maupun psikis.

Aku kalut, sungguh sulit rasanya berfikir jernih ketika orang yang dicintai sakit, apalagi ketika sedang berada di negara asing dimana tidak ada sanak saudara untuk mengadu dan bertanya. Aku berfikir berpuluh kali sebelum memutuskan mengetik pesan singkat di telepon selularku:

Radit have a high fever. He said ‘Papa’ in his dream. Is it possible that you would

Pesan singkat belum selesai kutulis. Radit memanggilku, bersamaan dengan muncul dipikiranku untuk batal mengirim pesan tersebut. Sekilas kutekan perintah ‘Deleted. Yes’. Aku kembali mendekap Radit dan mengganti kompresnya.

Pagi menjelang, matahari mulai menampakkan sinar namun hujan masih turun. Kuukur suhu tubuh Radit, 39 derajat celcius. Lebih baik ketimbang semalam. Anak kecil itu masih tertidur pulas. Lalu kusadari telepon selularku berkedip – kedip tanpa suara karena kupasang silent mode. Aku seperti sulit bernafas melihat daftar pesan masuk dan panggilan tak terjawab. Kuperiksa daftar pesan keluarku, ternyata aku salah menekan tombol, bukan hapus melainkan kirim. Kepalaku pening.

“Tuhan, sanggupkah aku menceritakan pada Radit. Tuhan, sanggupkah aku jika kemudian dia membenciku. Tuhan….” Dan berbagai pertanyaan yang berputar di kepalaku. Lalu kudengar Radit terbangun, memanggilku.

“Radit, do you feel better?”

“Ah I am okay Mam. I think I just got a headache. So sorry to make you worry.”

“Radit.. Sepertinya ada yang harus mama ceritakan tentang Papa. Mama ikhlas jika setelah ini kamu akan membenci Mama…..”

——-

Hampir pukul 8, hiruk pikuk gelaran Rally mulai terdengar dari penginapan kami yang dekat service area. Aku mengantar Radit ke parkiran. Thomas berada disana. Dialah ayah Radit. 5 Tahun yang lalu aku menikah dengannya di Sydney. Aku seorang mahasiswa master, dan dia dosen di kampusku. Thomas menyukai rally, tapi dia lebih menyukai sebagai navigator. Menurutnya navigator adalah think tank pada saat tim darat berada di special stage tanpa bantuan apapun dari anggota team lain.

Radit berumur 1 tahun lebih ketika kecelakaan itu terjadi. Thomas cidera parah dan koma selama satu minggu. Ketika siuman, kondisinya tidak memungkinan untuk dibawa kembali ke Sydney. Kewajiban beasiswa tidak memungkinkanku untuk cuti dan merawatnya di New Zealand. Setelah menemaninya selama 1 bulan, aku dan Radit kembali ke Sydney. Aku hanya bisa menengok Thomas sebulan sekali, itupun hanya saat weekend.
6 Bulan lamanya Thomas berada di Rumah sakit di New Zealand. Dari kondisinya yang hampir lumpuh total, hingga akhirnya bisa kembali menggeraknya anggota tubuhnya dengan normal. Suatu keajaiban, menurut dokter disana. Aku bahagia. Namun kebahagiaan itu tidak serta merta milikku, sebagian hati Thomas tertambat pada perawat yang setia merawat dan memberinya semangat selama 6 bulan itu. Aku sedih, tapi tidak sepenuhnya dapat kusalahkan mereka. Dimanakah aku ketika suamiku berada dalam titik kritis hidupnya, fisik dan mental. Apa kontribusiku bagi hidupnya kala itu. Dengan segala kebesaran jiwa yang kupikir kumiliki saat itu, maka kurelakan pernikahan kami selesai. Thomas tetap di New Zealand, menikah dengan orang yang sudah membaktikan 6 bulan hidupnya bagi kesembuhan Thomas. Aku kembali ke Sydney, berjanji tidak akan pernah mengingat Thomas lagi. Sebesar apapun keikhlasan yang kumiliki, dia tetap orang yang kucintai, ayah dari anakku. Memikirkan dirinya menjadi milik orang lain, hatiku terasa sakit. Rasanya aku ingin memilih hilang ingatan saja.

Radit, hanya Radit pertimbanganku saat itu untuk tetap waras. Duniaku harus tetap berputar demi Radit. Beasiswa Master dan Doktoralku harus selesai tepat waktu. Kupikir aku bisa melewati itu semua. Bertahanlah, dan 5 tahun lagi aku dan Radit bisa kembali ke Indonesia. Itu pikirku saat itu.

Maka aku mengarang cerita nista itu, bahwa ayah Radit telah tiada. Maksudku agar Radit tidak pernah bertanya dan tidak pernah meminta untuk bertemu dengan ayahnya. Karena aku tidak tahu apakah aku sanggup bertemu lagi dengan Thomas walau untuk alasan anak. Toh putusan pengadilan menetapkan hak perwalian Radit sepenuhnya menjadi milikku, dan Thomas sepertinya tidak berusaha meminta jadwal tetap untuk bertemu Radit. Mungkin dia tahu diri atau terlalu sibuk dengan pernikahan baru nya, aku tidak peduli. Yang pasti Thomas tetap bertanggungjawab membiayai kehidupan Radit, dana pada sebuah trustee disisihkan Thomas secara rutin setiap bulannya. Uang itu tidak pernah kusentuh. Walau tidak berlebih, uang beasiswa dan gajiku sebagai asisten peneliti di kampus sudah cukup membiayai hidup kami dan menyekolahkan Radit secara layak.

4 tahun telah berlalu sejak perceraian kami, 3 bulan lagi aku akan kembali ke Indonesia. Kukerahkan semua kekuatanku untuk memenuhi permintaan Radit menonton Rally of New Zealand. Kupikir setelah ini tidak akan ada lagi hal yang akan mengingatkanku pada Thomas.

Hingga terjadilah ketidaksengajaan itu, pesan yang seharusnya aku hapus malah terkirim. Thomas khawatir luar biasa akan keadaan Radit, terlihat dari jumlah panggilan darinya semalaman, dan pesan singkat berisi permohonan agar bisa bertemu Radit.

Aku memandangi Radit dan ayahnya dari jauh. 5 menit pertama mereka canggung. Berpelukan dan hanya bertatapan. Lalu menit – menit sesudah itu kulihat mereka mulai tertawa terbahak – bahak. Sesekali menunjuk mobil rally yang rutenya kebetulan lewat didepan penginapan kami. Kutebak pasti topik pembicaraan mereka seputar rally. Buah jatuh tidak jauh dari pohon. Sekilas kulihat pelangi melatari pertemuan ayah anak itu. Radit, Thomas, dan Pelangi. Mereka bagai gambar di kartu pos. Indah dan menyejukkan, namun mungkin tidak mungkin diraih, mereka hanya bisa dipandangi.

Radit dan ayahnya yang tertawa sambil berangkulan, sangat ingin aku bergabung tertawa bersama mereka, tapi aku sadar aku bukan lagi istrinya. Kami tidak akan pernah menjadi keluarga lagi.  Mungkin pelajaran ikhlasku harus aku tambah. Yang merupakan akhir bagiku dan Thomas, bukan akhir bagi Radit dan Thomas. Bagaimanapun aku tidak bisa memutus pertalian darah.

Kuputuskan berjalan – jalan di perbukitan dan padang rumput New Zealand. Menenangkan hati, serta memberi waktu pada mereka, agar leluasa melepas rindu tanpa merasa diintip olehku.

Pelangi yang sering muncul di Whangarei setiap hujan usai.

———

Sore hari aku baru kembali ke penginapan. Kulihat Radit dan Ayahnya menanti di kamar.

“Mama, I am so worry about you. You didn’t pick up the phone.” Cerocos Radit sambil memelukku.

“Ah really, mhhm I think I left my phone at…. there, on a silent mode. Sorry dear.” Jariku menunjuk meja rias, Radit mengikuti arah tunjukku.

“Mama.. sorry, I think that you are angry and left me. Mama, you are the best mom in the world. You raise me very well by yourself, in the foreign country. That’s amazing mama.. I am very proud of you. Never leave me again. I promise will never leave you.” Radit memelukku erat. Ternyata kepergianku setengah hari tanpa pamitan, menyusahkan hati Radit. Aku menyesal.

Thomas menatapku, kemudian memandangi Radit dalam pelukanku, dia melontarkan beberapa joke untuk memperbaiki suasana hati Radit. Kami tertawa terbahak- bahak, bertiga. Ternyata aku masih diberi kesempatan bisa tertawa bersama mereka. Bahagia menyeruak dalam hati.

Hari menunjukkan pukul 8 malam ketika kami selesai menyantap makan malam. Thomas berpamitan pulang.

“My superboy, please take care your Mommy. She is a great woman. I know that you will be a great person with her.” Thomas memeluk Radit. Aku merasa ada suasana haru diantara mereka berdua.

“Dan ini, sapu tangan milik Papa, kamu pakai untuk seka ingus ya kalau Pilek lagi. Papa rasa, setelah ini kamu tidak akan pilek dan demam lagi kan? ” Thomas mengangsurkan sehelai sapu tangan.

Dan baru kusadari ternyata Radit memang dalam keadaan sehat walafiat. Tidak ada jejak pilek maupun demam sisa semalam. Sakit yang kita rasakan, seringkali adalah refleksi suasana hati. Tidak salah peribahasa ‘mens sana in corporesano.’ Kali ini aku harus berterimakasih pada pilek Radit. Pilek yang memungkinkan aku mengakhiri semua kebohongan pada Radit. Pilek yang menghubungkan kembali Radit dengan ayahnya.

“Tiara, terimakasih banyak atas pengorbananmu membesarkan Radit. sebanyak apapun maaf yang kuucapkan, tidak akan mampu menghapus dosaku padamu dan Radit. Tolong tetap jaga Radit. Doaku agar kamu dan Radit bahagia selalu.” Thomas memelukku.

“Insya Allah.” Jawabku pelan.

———-

“Life is like a rainbow. You need both the sun and the rain to make its colors appear.” – Anonim

—-

note:

A special stage (SS): a section of closed road at a stage rally event. Racers attempt to complete the stage in the shortest time

LEG: each day of the whole event

Whangarei, July 2011.

Advertisements

4 thoughts on “Pelangi di Whangarei

  1. Huwoooo, panjang banget….
    *langsung ngumpet karena ceritaku ga ada apa-apanya :|*
    tapi sebelum baca, aku mau nanya:
    1. ini fiksi kan?
    2. gambar2nya darimana sumbernya? dan masih fiksi kan ya?

    • Panjang tapi alurnya (menurut ku) ga smooth, agak maksa bin lompat2 (mari kita sebut efek dari sistem kebut semalam hehe).

      Kisah nya fiksi. Anchor event nya real, (APRC Whangarei 2011). Fotonya dokumentasi pribadi (jadi harap maklum hasilnya buram seadanya) 😉

  2. Dan bisa-bisanya kemaren2 kamu bilang terintimidasi, trus blank, tapi dalem semalem bisa menghasilkan tulisan selengkap ini? Ga cuma panjangnya, tapi detail-detail latarnya, dan bahkan background karakter dan ceritanya bikin aku bengong.

    Tadinya mau bilang kok temanya rada berat, trus inget kalo aku juga pernah nulis yg samenleven, ga jadi protes :p

    So, terlepas dari beberapa masalah teknis, seperti salah kata, saya/aku, dipisah/sambung, this is a very good work.
    If I say that I don’t like it, it’s mostly because I can’t make something like this 🙂

    btw, kadang aku suka bingung waktu baca cerita2 kamu, apa itu fiksi ato beneran. Penggunaan “Whangarei, Juli 2011” itu penyebabnya. Mungkin lain kali diposting juga yg versi pengalaman betulannya di sana. Pengen baca juga 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s