Standard

Tentang Mereka

Saya merasa beruntung, pekerjaan yang digeluti saat ini memungkinkan saya bertemu orang-orang yang terhitung ‘sukses’ dalam kehidupannya saat ini. Sukses dalam definisi saya, mereka hidup diatas taraf berkecukupan, taat beribadah sesuai keyakinan, memiliki keluarga yang harmonis, dan yang terpenting mereka membuka jalan bagi nafkah orang lain, membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.

Adalah hal yang sangat menyenangkan bisa berbincang dengan orang-orang tersebut. Walau beberapa diantaranya tidak lagi satu kota dengan saya, selalu saya prioritaskan bertemu mereka jika ada kesempatan. Ketimbang nongkrong dengan teman ngobrol trend fashion terbaru, atau ngobrol tentang politik yang tidak bisa kita intervensi, atau nonton berita di televisi yang isinya rekayasa, rasanya lebih memberi vitamin bagi hidup ketika mendengarkan kisah hidup orang-orang sukses ini. Tentang bagaimana mereka merintis usaha dari nol, hingga akhirnya menjadi besar dengan ratusan bahkan ribuan karyawan saat ini (saya tidak berbicara tentang orang ‘sukses’ dari jajaran pejabat dan birokrat atau karyawan ya, ini cerita dari kacamata beberapa orang pengusaha).

Ada beberapa hal serupa dalam kisah mereka menapaki kehidupan menuju sukses yang rasanya bisa saya coba terapkan dalam hidup saya.

Tidak malu memulai usaha dari bawah dan bekerjakeras

Kebetulan beberapa orang yang saya kenal adalah generasi pertama dari konglomerasinya. Mereka memiliki kesamaan sebagai pekerjakeras sejak usia muda. Mereka dilahirkan bukan dari keluarga kaya, terhitung miskin malah. Mereka pernah menjadi kuli panggul, sales door to door, kenek angkot dan sebagainya. Mereka tidak malu dengan kegiatan ‘rendahan’ yang dilakukan. Mereka konsisten memperjuangkan mimpi dan visi hidupnya. Mereka tetap bekerja keras walau beberapa kali gagal. Mereka percaya akan tiba saat dimana Tuhan membukakan jalan sukses untuk mereka. Terpenting, mereka yakin akan sukses tidak peduli orang lain mencemooh usaha mereka.

Kisah beberapa generasi ke dua dan ke tiga pun kurang lebih sama, mereka bekerja lebih keras dengan tuntutan selangkah didepan kemajuan zaman. Mereka expert pada masa dimana harus memikirkan perusahaan untuk tetap survive di era teknologi tinggi.

Membukakan mata saya, bahwa hidup harus punya mimpi. Harus berjuang melakukan hal-hal yang saya sukai dan saya yakini akan membawa pada pintu sukses, apapun definisi sukses bagi kita. Apakah saat ini saya sudah bekerja keras, melakukan hal yang saya suka dan saya yakini akan membawa saya pada pintu sukses dunia dan akhirat? Entahlah, saya masih harus belajar banyak tentang itu.

Menghormati orang tua

“Yang penting itu doa orang tua. Loe ga bakal sukses kalo orang tua ga doain elo. Mereka ga akan doain elo sukses kalo mereka ga happy sama perlakuan loe ke mereka.”

“Mau ngapa-ngapain, minta restu orang tua. Ga usah cerita keluh kesah kesulitan hidup yang kamu rasain. Yakinkan mereka kalo kamu bahagia, dan minta doa mereka agar kamu terus bahagia.”

“Loe nyakitin orang tua sekali, rejeki loe seret seumur hidup sampe loe sujud minta maaf sama orang tua loe.”

“Loe bae sama orangtua loe, Tuhan gampang kasih rejeki ke elo. Loe beliin orang tua loe rumah, Tuhan gampang kasih loe 10 rumah. Klo islam biasanya naik haji, loe kasih bapak ibu naik haji, besoknya elo dapet rejeki banyak buat loe sendiri naek haji.”

Kurang lebih demikian sedikit kutipan-kutipan mereka tentang pentingnya memperlakukan orang tua dengan baik. Tentang pentingnya doa orangtua bagi kehidupan kita. Orang-orang sukses tersebut berasal dari latar keyakinan yang berbeda, namun bisa saya lihat perspektif mereka tentang orangtua adalah sama, Mereka merasa kesuksesan mereka juga buah doa orangtua.

Saya yakin, ini jalan membuka kunci sukses paling mudah. Apalagi bagi kita yang kedua orangtua nya masih hidup, bahagiakan orangtua selagi masih bisa kita membahagiakannya. Insya Allah dimudahkan segala urusan kita, amiin.

Beramal dan sedekah

Dalam agama saya diajarkan untuk beramal dan sedekah. Bahkan pada satu buku yang saya baca, “matahari masih bisa terbit dari barat, karena tidak ada jaminannya dalam Alquran bahwa matahari selalu terbit dari timur. Tapi kalo sedekah, itu sudah PASTI Allah akan membalasnya, ada itu jaminannya dalam Alquran.”

Kita seringkali berkelit agar tidak sedekah, merasa diri sebagai orang miskin, lebih suka menerima ketimbang memberi. Kadang terasa berat memberi lebih pada anak kecil ojek payung, terasa berat menyisihkan pakaian layak pakai kepada orang-orang yang lebih membutuhkan dengan alasan ‘sayang siapa tahu kelak terpakai’, padahal barang-barang itu juga tidak berguna di lemari kita. Hal demikian ternyata tidak membuat kita menjadi lebih kaya.

Pengalaman orang-orang yang saya kenal ini kompak berkata, bahwa dengan memberi atau sedekah atau apapun lah bahasanya dalam keyakinan mereka, itu justru membuka pintu peluang dan pintu rejeki lainnya dalam hidup mereka. Harta mereka tidak berkurang, malah justru bertambah.

“itu barang orderan gue belom turun dari kapal, belom juga kasih keuntungan, udah langsung gw sedekahin. Itu bahasa agama loe sedekah kan ? Gw ikutin itungan islam 2,5 % dari keuntungan, soalnya di agama gue ga ada petunjuk itungannya.”

“Jangan pelit jadi orang. Rejeki kita ada bagian orang lainnya juga. Pokoknya elo harus jadi yang memberi, malu kalo jadi yang diberi.”

“sedekah aja, terus berdoa. Sisanya Allah tahu yang paling bagus buat kita.”

Dan banyak kisah-kisah mereka lainnya yang menggambarkan bahwa ketika mereka sedang berada diposisi keuangan yang sulit sekalipun, mereka tetap berusaha menjadi pihak yang memberi. Jadi rasanya sangat sedih ketika kita masih bisa minum kopi dan makan makanan bermerk, tapi yang terucap adalah ‘gue lagi bokek’ nih.

Terasa seperti tidak bersyukur ya.

Tidak ada tempat untuk gengsi

“Loe hidup ga usah banyakin gengsi. Mumpung masih muda, investasiin waktu loe untuk hal-hal besar. Daripada loe nongkrong di cafe tuh. Ngabisin duit.” Kata seseorang diantara mereka.
“Tapi kan social cost koh, kalo ga nongkrong nanti ga ada networking.” kata saya berargumentasi saat itu.
“Networking ga nemu mendadak di cafe atau club malam, Non. Untuk meeting point lanjutan boleh. Ya elo cari networking di tempat yang guna dong. Elo sering nyelem, pasti di klub selam loe ada orang-orang yang satu visi sama elo terus nanti berkembang elo kenal juga ke temen-temennya dia. Jadi hobi loe tersalurkan, networking juga ada. Daripada nongkrong dugem ga jelas juntrungannya. Orang yang dateng juga ga jelas, boro-boro kasih proyek, ada juga gigolo kali. Loe boleh dugem gengsi-gengsian kalo aset loe udah menghasilkan duit dengan sendirinya. Kalo yang gue liat sekarang, anak muda gaji cuma lima atau sepuluh juta hobinya belanja sama makan mahal. Kalo hemat dikit dikumpulin udah bisa buat DP rumah. Social cost apa itu. Nah elo, udah berapa orang baru yang loe kenal dari sering dateng ke kantor gw ini hah, gw kenalin loe sama temen2 gw, udah jelas kualifikasinya. Bayar ga loe nangkring disini, gratis kan..Hahaha.”

Cerita lain lagi:
“Jam tangan tuh kalo ga yang paling mahal, ya yang ga merk sekalian. Kalo ga rolex ya ga usah sok merk. Cuma rolex yang bisa bisa di jual lagi dengan harga mahal. Barang lain juga gitu. Ga usah gaya-gaya pake kartu kredit beli barang merk kalo ga bisa dijual lagi dengan lebih mahal.”

“Sinetron aja itu yang ngajarin orang jadi konsumtif, diliatin orang kaya seneng-seneng aja. Diliatin ga gimana awal kita rintis usaha jungkir balik, ga punya baju buat ganti tiap hari. Orang- orang yang nonton jadinya cuma ngambil seneng-senengnya aja. Belum usaha apa-apa, belum berhasil udah mau gaya mahal. Ya ga cocok. Korupsi jadi nya.”

Dan beberapa cerita serupa sering saya dengar dari mulut mereka. Dan ya benar, penampilan mereka pun sederhana. Saya jadi teringat Bob sadino dengan celana pendeknya, seperti itu juga kurang lebih penampilan mereka. Mereka yang asetnya terus berkembang saja, hidup tidak berlebihan. Ketika mereka memakai barang bermerk, menurut saya adalah hal yang wajar bagi mereka. Karena pengeluran untuk itu mungkin hanya bagian sangat kecil dari total aset mereka. Saya jadi berkaca, lah saya yang penghasilannya mungkin tidak mencapai satu per sepuluhribu mil dari penghasilan mereka, kenapa malah ingin hidup menyerupai mereka ya. Makan mahal, barang bermerk, gadget canggih, demi memuaskan apa yang disebut dengan life style dan gengsi tanpa mengoptimalkan fungsi. Mendingan duitnya ditabung biar bisa dikumpulin jadi modal terus bikin usaha sampingan apa gitu ya sama temen-temen satu visi. Ya itu juga masih jadi PR buat saya.

———————–

Live my life 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s