selintas

Mungkin hidup kita penat.
Terkadang dipenuhi berbagai hal sepele.
Hingga rasanya ingin meledak ketika ketambahan satu hal sepele lainnya, misalnya membalas SMS.

Namun setidaknya luangkan waktu untuk memberi kabar.
Mungkin bukan untuk merasa diinvasi kehidupan pribadinya.
Hanya sekedar berempati bahwa orang yang menanti kabar mungkin mengkhawatirkan keselamatan kita.

Pun ketika harus membalas tentang ajakan bertemu dari orang yang paling tidak ingin kita lihat wajahnya didunia ini,
Setidaknya katakan ‘Tidak’ jika memang tidak ingin. Ketimbang hanya diam tidak memberi kabar sama sekali.
Bukan untuk memberi ruang bagi orang itu untuk masuk dalam kehidupan kita,
Hanya sekedar berempati bahwa orang itu juga memiliki kehidupan, agenda, rencana, selain keinginannya untuk bertemu kita.
Mungkin ketika kita memberi kabar sebelum waktu janjian dimaksud, meskipun isinya hanya ‘tidak’, akan memberi ruang bagi orang itu untuk merancang ulang agendanya. Menjadikan waktunya lebih berarti, ketimbang menunggu balasan dari anda, yang pada akhirnya tidak anda balas karena tidak ingin ditemui.

Mungkin kita pernah merasa, bahwa komunikasi bukan hal penting untuk dilakukan kepada orang-orang yang kita sayangi. We take them/she/he for granted. Kita jarang berkomunikasi, entah karena kita yang malas untuk memulai, atau kita yang malas untuk mencari tahu. Kita menggunakan label pembenaran, “mereka tetap sayang dan hormat pada saya, meski kami jarang berkomunikasi.”

Iya, mungkin sayang dan hormat itu tetap ada. Tapi seberapa besar kadarnya? Tergerogotikah seiring berjalannya waktu? Seberapa sering kita terkaget-kaget mendapati mereka sudah berubah. Tumbuh menjadi lebih dewasa, lebih besar, ke arah positif, arah negatif, dan lainnya. Seberapa besar kontribusi kita dalam pertumbuhan jiwa mereka.

Mungkin rasa hormat dan sayang itu memang ada, tapi tipis?

Atau hormat dan sayang itu ada, tapi kita tidak termasuk yang membentuk pribadi orang-orang yang kita cintai dalam perjalanan mereka menjadi pribadi hebat?

Hormat dan sayang, namun kita merasa tidak mengenal mereka seutuhnya, semakin lama terasa semakin berjarak. Karena mereka tidak tumbuh bersama kita, fisik maupun mental. Karena keengganan kita untuk menginvestasikan waktu untuk berkomunikasi dengan mereka. Meski hanya sekedar “halo, kamu apa kabar hari ini?” Atau “selamat bobo, mimpi indah.” (Karena anggapan, ya sudahlah dia kan sayang aku, tak perlu lah sering2 berkabar. Atau yasudahlah paling juga tidak berbalas).

Mungkin tidak berbalas, tapi setidaknya kita sudah mencoba tetap mengiringi mereka. Ketika dua pihak tidak menyadari kurangnya kualitas kuantitas komunikasi, setidaknya ada salah satu pihak yang terus berupaya mensejajarkan langkah. Mungkin letih, mungkin terasa tidak ada gunanya, tapi hanya itu yang bisa dilakukan ketimbang membiarkan segalanya jadi berjalan sendiri-sendiri ke penjuru berbeda.

Ketika kita berusaha terus mensejajarkan langkah, mengikuti perubahan dan tumbuh kembangnya, kelak mereka akan mengerti bahwa kapanpun mereka letih menapaki hidup, kita tetap ada disamping mereka untuk tempat bersandar (meskipun harus dibayar dengan hati yang letih dan terengah mengejar mereka. Let’s call it in the name of love). Terutama untuk orang-orang tersayang yang terhubung karena silsilah keluarga. Teruslah berusaha bersama, atau kita akan kehilangan mereka. Kehilangan momentum untuk bersama mereka.

Kecuali, kalau memang sudah tidak ada yang harus dipertahankan lagi. Tapi pun ketika kita menyerah, setidaknya katakan bahwa ‘semua selesai’. Agar masing-masing bisa melanjutkan hidupnya. Tidak menduga-duga menghabiskan waktu percuma.

Ketika kita berkata, “Jangan terlalu dekat, aku butuh ruang dalam hidupku.” sebenarnya itu gambaran jarak dengan diri kita sendiri. Jangan korbankan orang lain atas ketidakmampuan kita memahami diri sendiri.

Berusahalah, kecuali kita ingin mati sendirian tanpa didampingi orang-orang tercinta pada saat-saat akhir hidup kita.

Mungkin saat ini kita merasa bisa melakukan semua sendiri. Cinta bisa dibeli, senyum bisa dibeli, pengalaman seksual bisa dibeli. Segala hal bisa dibeli demi memenuhi kebutuhan ragawi tanpa harus melibatkan emosi. Tapi Tuhan memberi manusia siklus hidup lengkap, termasuk masa-masa dimana kamu menjadi manusia tidak berdaya.

Lalu siapa yang akan bersamamu ketika masa tidak berdayamu?

Anak-anak dan cucumu? Layakkah kelak kita mendapat perhatian dari mereka sementara saat ini kita tidak pernah memperhatikan mereka, tidak pernah membangun ikatan emosional kecuali sekedarnya?

Pasangan hidupmu? Masih bertahankah dia menemani hingga masa tak berdaya kita, sementara seumur bersama kita tidak pernah menjaga kebersamaan, jarang bersyukur akan adanya pasangan hidup? Terus menerus merasa diinvasi dan tidak memiliki ruang untuk diri sendiri.

——–

Mungkin kamu memang orang yang layak mati dalam sepi. Itu harga atas keegoisan mu tidak ingin disulitkan dan terikat secara emosional dengan orang lain. Itu karakter, yang kurasa timbul dari kepengecutanmu menghadapi hidup, dan kebiasaan untuk tidak ingin mengemban tanggungjawab.

—-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s