Standard

ikan mas koki

“Yang ini kak, lucu. Jenis ikanmaskoki Bulldog, matanya melotot. Seperti kakak nya kan.” Grrrzzz aku spontan melotot ke arah lelaki kecil yang menawarkan dagangannya padaku.

“Eh tapi kakak tetap cantik walau melotot,” ralatnya. Demi melihatku melotot. Mungkin takut aku tak jadi belanja di kiosnya. Aku tersenyum melihatnya ketakutan.

“Atau yang ini kak, jenis spencer. Sebut saja ikanmaskoki jambul. Lucu kak… Atau ini juga lucu kak, ekornya berumbai namanya jenis veil tail. seperti putri duyung.. Cantik,” katanya sambil tersenyum ke arahku. Selama 15menit kedepan anak kecil berumur sekitar 10tahun itu terus berkicau menawarkan jenis-jenis ikanmaskoki, tangannya berpindah menunjuk satu akuarium ke akuarium lainnya, memberi kuliah singkat tentang jenis ikanmaskoki, juga cara merawatnya. Kuakui pengetahuan anak kecil ini tentang beragam jenis ikan, cukup lumayan. Dibanding kios lain yang hanya menawarkan ini itu tanpa penjelasan.

“Jadi, nama kamu siapa?” tanyaku, setelah kuputuskan membeli sepasang maskoki ekor rumbai.

“Andi,” katanya sembari mengisi kantong plastik ku dengan oksigen. “Aku tahu, kakak tiap sabtu dan minggu pasti kesini, lihat ikan. Kelihatannya kakak ingin sekali beli tapi kakak tidak pernah beli. Makanya hari ini aku jelasin agak banyak biar kakak tertarik beli, ga cuma lihat-lihat. Aku kan hafal orang-orang yang kesini lebih dari dua kali”, aku mengangguk mendengar celotehnya.

“Aku juga tahu, kakak dulu sering kesini sama teman kakak yang cowo itu kan? Dia suka pelihara kelinci, biasanya kakak dan dia ke kios kelinci Mang endang, beli makanan kelinci. Setelah itu kakak lihat-lihat ikan, tapi ga beli. Aku heran, mestinya tahu pacarnya ingin pelihara ikan, kenapa ya teman kakak itu ga pernah beliin kakak. Padahal ikan mas koki tidak semahal kelinci kan ya? Tapi sudah lama teman kakak yang cowo itu tidak kesini, kakak juga sudah lama tidak kesini ya. Tiga bulan rasanya kakak tidak kesini. Baru dua minggu ini kakak kesini lagi, tapi sendiri.” celoteh anak kecil itu lagi.

Aku tidak berani menatapnya, kulihat sepanjang jalan Barito sepi. Hal langka adalah selama 3 menit tidak terlihat metromini lewat. Aku mengumpat dalam hati. 3 menit tanpa metromini, berarti tidak ada hal yang bisa mengalihkan perhatian anak kecil ini dari wajahku padahal air mata sudah siap turun.

“Kak, maaf. Aku kebanyakan ngomong ya? Kakak jangan nangis. Eh nangis juga ga apa-apa, kata Ibu ku bisa membuat lega. Ini Tissue untuk kakak”. Dan menangislah aku setelah dikomando anak kecil ini. Tanpa kusadari, tanganku digandengnya kedalam kios, diberi tempat duduk kursi plastik. Satu menit, dua menit, lima menit. Sepuluh menit aku menangis didalam kios itu, dihadapan seorang anak kecil yang memandangku bingung penuh rasa bersalah.

Ketika kesadaran menerpa, kuseka wajah dengan tissue pemberian Andi. Berusaha tersenyum kepadanya. “Sudah siap semua, ikan, fishbowl, makanan, adaptor dan plembungan udaranya? Terimakasih ya, maaf merepotkan. Ini uangnya”. Kataku beranjak pergi, menyebrang jalan sambil membawa plastik belanjaan yang sudah disiapkannya. Tidak kuhiraukan suara Andi memanggil-manggil, kurasa karena dia hendak memberi uang kembalian.

Aku termenung lama sebelum menyalakan mobil. Bagaimana semesta begitu kejam, membuat berbagai kejadian yang sulit membuatku Ikhlas. Teman lelaki yang disebut Andi kecil itu, dia juga bernama Andi. Mari kita sebut saja dia Andi besar.

Andi besar, sahabatku atau teman tapi mesra ku atau teman tanpa status atau apapunlah namanya. Tempat bercerita tentang kakak kelas yang sering membullyku, tentang pacar-pacar brengsekku, tentang nadia teman dekatku-yang sudah tidak dekat lagi-karena dia pakai putaw, tentang ya tentang semuanya lah. Yang pasti apapun ceritaku, Andi besar akan mendengarkan dengan seksama dan terkadang menghibur jika dirasanya perlu. Nasehat, oh dia tidak pernah memberi nasehat kecuali aku minta. Itulah sebabnya aku merasa lebih nyaman bersamanya ketimbang pacar pacar sok tahu yang berprinsip- iya gue kan pacar loe jadi dengerin nasehat gue. Crap !

Barito? Iya itu tempat favorit kami menghabiskan waktu sepulang sekolah. Eh kami? Ralat, itu tempat favorit Andi besar. Aku hanya menemani, hitung-hitung balas budi atas kebaikannya yang mauan menemaniku kemana saja.

Kelinci? Iya itu hewan peliharaan kesukaannya. Waktu anak kelincinya mencapai 10 ekor, pernah diberinya sepasang kepadaku. Tapi keduanya wafat dalam hitungan minggu. Andi besar sedih, tapi dia tetap baik padaku. Hanya saja dia berkata, “aku tahu kamu lebih suka ikanmaskoki ketimbang kelinci. Suatu saat, aku akan belikan maskoki untuk kamu. Kalau kamu janji, akan merawat sebaik-baiknya. Anggap saja ini treatment, agar kamu awet pacaran juga. Pelihara hewan dan pelihara pacar harus sama telatennya, jangan karena sebel sedikit kamu putusin. Atau capek sedikit ga kamu kasih makan”. Tumben dia komentar tentang kehidupan pacaranku, pakai ‘aku kamu’ pula. Biasa dia hanya pendengar yang baik. Kalaupun komentar tidak pernah menyalahkanku.
“Kalau pacaran kali ini mencapai umur enam bulan, Gue kasih ikanmaskoki. Gue anggap itu indikasi elo udah bisa merawat suatu hubungan dengan baik, mestinya berdampak ke skill elo pelihara ikan juga. Biar ga mati dalam seminggu tuh ikan belo.” Katanya, kembali ke langgam ‘elo gue’.

Waktu itu aku hanya menanggapi dengan melayangkan sebuah tonjokan kecil dilengannya. Kala itu pacarku Daniel: kakak kelas, beda agama, anak basket. Standarlah ya, tipe pria pujaan ababil pada masa nya. Memiliki pacar populer itu hukumnya penting, itu membuatmu kebal hukum tidak diganggu macan-macan (sebutan untuk cewe2 senior) yang merasa kecantikan atau ketenarannya tersaingi adik kelas. Ketika putus, segera cari pria populer lainnya. Karena ketika kamu tenar tapi kamu bukan pacar pria populer, silahkan saja siap berdiri ditoilet dan macan-macan memberimu perintah yang mempermalukan harga dirimu (tak usah dideskripsikan).

Hubungan dengan Daniel baik-baik saja, ini memasuki bulan keempat. Lumayan lama ketimbang pacar-pacar sebelumnya yang hanya bertahan paling lama dua bulan. Sebelum akhirnya Daniel berkata putus, alasannya beda agama. Pengalaman pertama menjadi objek putus, cukup menyakitkan. “Biasanya kan bagian gue itu yang bilang putus!” rajukku ketika curhat pada Andi besar. Dan kamu hanya tersenyum menepuk-nepuk punggungku.

Setelah itu aku tidak punya pacar, tiga bulan. Ini juga rekor, karena biasanya selang seminggu putus aku sudah punya pacar baru lagi (ingat tips menghindari macan; ketika putus segera cari pacar populer lainnya). Bukan karena aku tidak bisa move on dari Daniel, aku hanya merasa kosong dan capek. Tak peduli itu macan-macan bolak balik ngerjain aku di toilet, hingga terakhir mereka berani-beraninya memaksaku menggunting rok ku hingga dua jengkal dari atas lutut, aku muak. Yang aku lakukan adalah menodongkan gunting itu kepada mereka, dengan penuh percaya diri aku mengancam akan menusukkan gunting itu pada mereka sambil mengungkit pangkat kemiliteran ayah-ayah mereka yang ada dibawah pangkat ayahku, “Dengan mudah akan kuminta ayah mutasi orangtua kalian ke tempat terpencil,” tipuku. kurasa mereka percaya tipuanku, padahal itu hanya risetku tentang demografis mereka, ternyata berguna jadi senjata pamungkas. Ayahku bukan militer, urusan nanti lah kalau bohongku ketahuan. Mulai besok aku akan ikut ekskul beladiri, janjiku.

Ya hatiku kosong, aku malas punya pacar, siklusnya sudah kuhapal, dua minggu pertama aku berbunga-bunga lalu selanjutnya aku bosan karena harus jaga image didepan pria-pria populer itu. Aku juga tidak peduli lagi ancaman macan. Dan rasanya.. Aku rindu bercanda dengan Andi besar. Ketawa keras-keras, sendawa, makan bakso pedas hingga berkeringat dan bibir jontor. Apalagi semenjak tiga bulan terakhir aku tidak punya pacar, kami jadi lebih sering bersama. Mendadak aku teringat semua kebaikannya, kehadirannya. Rasanya aku..

Dan aku berlari kekelasnya. Tapi hari ini dia tidak masuk. Begitu juga besoknya, lusa, dan seterusnya. 10 hari tidak ada kabar dan tidak bisa ditelepon, Aku dan guru BP kerumahnya, kata penjaga rumah, “mas Andi ke singapur sakit.” Seminggu setelah kunjunganku kerumahnya, baru SMSku dibalas: Aku lagi ga enak badan ini, elo baik2 ya disana. Kangen gue sama elo.

Membaca sms yang kutunggu setengah mati, aku segera membalas serampangan:
kuyaaa, tega banget sih lama ga kasih kabar. Awas kalo ga bawa oleh-oleh!.
Tidak dibalas.
Besoknya: andi, kamu sakit beneran? Get well soon. Aku doain kamu dari sini ya. Masih punya utang beliin ikanmaskoki
Tidak dibalas.
Lusanya: andi, cepat sembuh ya, cepat pulang. Aku kangen kamu. aku sayang kamu.
Tidak dibalas. Dan aku menangis, entah untuk alasan apa.

Seminggu setelah andi membalas SMSku (yang setelah itu tidak pernah ada sms lagi), Ketua Osis masuk kekelas membawa kotak sumbangan. Isi beritanya adalah: “telah meninggal dunia kemarin, andi subrata djenar.. Bla bla bla…” Dan kata teman-temanku, aku pingsan. Kutemukan diriku terbangun diruang P3K.

Besoknya sebuah paket datang kerumahku, dikirim andi dari singapura, sebelum dia meninggal. Berisi karikatur ikanmaskoki. Terlampir surat didalamnya.

dear putri duyung,
aku punya hutang ikanmaskoki ya. Maaf sepertinya aku ga sempat penuhi janji itu. Aku kirim karikaturnya aja ya. Buatan aku itu. Agak jelek gambarnya, tulisan aku juga jadi jelek. Aku kena aneurisma, semacam penyempitan pembuluh darah. Punyaku didekat otak, jadi sering gemetar klo pegang pensil. Kamu baik-baik ya disana.
Satu lagi hutangku ke kamu, maaf selama ini aku tidak pernah berani mengakui, aku sayang kamu juga. Jauh sebelum kamu sadar kalau kamu sayang aku. Maaf, butuh begitu lama untuk mengakui ke kamu. Aku hanya takut tidak bisa menjadi yang terbaik untuk kamu, dan kita malah tidak jadi pacar maupun teman. Sekali lagi maaf.
Aku sayang kamu. Semoga aku masih bisa ketemu kamu ya.

Dan aku menangis. Lagi.

——

Kesadaran menyeruak kembali, rasanya cukup lama aku terdiam dimobil yang tidak menyala dengan kaca tertutup. Gerah. Dan aku bergegas menyalakan mobil dan ac. Diseberang dekat kios Andi kecil terlihat agak ramai. Tukang parkir yang sedari tadi menunggu mobilku pergi juga tidak ada, mungkin dia bosan. Dan aku meninggalkan tempat itu. Besok aku bayar parkir dobel deh, pikirku saat itu, mengingat hari ini aku tidak bayar parkir karena abang-abangnya tidak ada.

Keesokan harinya aku kembali ke kios Andi kecil. Hari ini aku membawa ensiklopedia tentang ikan. Bukunya dilengkapi foto-foto. Kurasa Andi kecil pasti suka.

Kios Andi kecil tidak buka. Kutanya tukang parkir, jawabnya “Mbak, mohon maaf, Andi kemarin meninggal. Ketabrak metromini waktu mau nyebrang. Saya liat sendiri, karena saya ada didekat mobil yang dia panggil-panggil itu, kayanya mobil orang yang habis belanja dikiosnya.”

Berputar adegan Andi kecil berteriak memanggilku, dan sekelebat keramaian didepan kios Andi kecil ketika mobilku hendak pergi. Salahku kah Andi kecil meninggal? Dia menyebrang jalan dan tertabrak karena memanggilku?

Dan semua mendadak gelap bagiku.

Tuhan, bila aku terbangun dan aku masih hidup, tolong jadikan aku amnesia selektif. Aku tidak ingin mengingat semua yang berbunyi Andi.

Advertisements

4 thoughts on “ikan mas koki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s