lima kisah

Reuni, 20 agustus 2010

Shana : akhirnya aku divorce. 5 tahun menikah akhirnya tidak tahan dengan semua kebiasaan kleniknya. Islamnya aliran aneh.

Maria: Lah bukankah sebelum menikah sempat pacaran 3 tahun yah, kalau sering sholat jamaah bukannya bisa tahu kalau alirannya aneh?

Shana : hahaha pacaran 3 tahun mah dugem aja sih kita, baru kepikiran tentang sholat dan sebagainya ketika harus jadi contoh untuk anak.

Maria : Yah aku juga cerai sih, jadi tidak berani komentar lah. Tapi ego lelaki memang besar yah. Ketika penghasilanku lebih tinggi dari dia, mulailah terlihat aneh-anehnya dia. Rasanya seperti bentuk aktualisasi diri karena merasa kurang berharga di rumah.

Lulu : Kamu tapi tetap menunjukkan hormat padanya kan meski penghasilan dia lebih sedikit?

Maria : Salah ku juga, aku sering semena-mena padanya. Awal menikah masih kutemani dia makan malam walau aku sendiri sudah makan dikantor, tapi lama-lama aku malas. Akhirnya banyak ritual kebersamaan yang hilang karena aku merasa sudah capek bekerja, dan layak berlaku demikian karena kontribusi ku dalam rumah tangga lebih besar. Akhirnya dia tidak bahagia bersamaku, aku yang membiarkan cinta ini melempem. Tapi aku terlalu malas memperbaiki hubungan itu, karena kupikir masih banyak lelaki berpenghasilan besar yang bisa kudapat. Jadilah kami bercerai.

Anang : Dasar wanita. Kenapa sih kalian tidak bisa memahami kaumku. Kami hanya perlu dihargai dan merasa tentram. Yang paling mudah, istri tersenyum ketika suami pulang kantor. kalau itu sudah ada dirumah tidak akan kami mencari yang lain. Kecuali khilaf.

Maria, shana, nisa, lulu: yeee tapi kamu banyakan khilafnya. *tergelak*

Anang: Lah ya seperti aku ini kan terlunta-lunta, istri ku minta cerai. Aku sudah berusaha mempertahankan demi alasan anak. Tapi dia tetap ingin cerai, katanya mantan kekasihnya waktu SMP lebih romantis dari aku. SMP coba bayangkan, zaman ingus kadang masih meler, kok ya mantan zaman segitu masih dikenang, lalu ketemu lagi katanya masih ada rasa. Ternyata hanya karena dia lebih kaya. Keterlaluan.

Proses cerai pun dia buat berbelit-belit karena minta harta gono gini. Lah adanya hutang gono-gini. Dia tahu rumah kami masih KPR, mobil Leasing, tagihan kartu kredit di limit maksimal, tabungan nol. Semua juga demi menopang gaya hidupnya. Harta cuma segini, diselesaikan di luar pengadilan saja sebenarnya bisa, rembugan baik-baik. Lah ini keukeuh minta putusan hakim atas harta gono-gini. Jadi ribet dan lama kan.

Lulu: Makanya Nang, dari dulu sudah dibilang kalau istri mu itu bukan tipemu, bukan kastamu. Masih keukeuh dinikahi tanpa di kasih orientasi dulu kalau kamu bukan (belum) kaya. Kita kan tidak bisa merubah seseorang, kecuali orang tersebut yang ingin sukarela berubah.

Anang : Iya, aku yang salah. Seharusnya sejak pacaran sudah kugambarkan kehidupan yang mungkin akan ditempuh, secara dia anak orang kaya. Harusnya langsung aku tantang dia berani hidup susah atau tidak. Berani membangun bersama atau tidak. Kalau tidak berani ya sudah jangan menikahi aku. Tapi ya itulah pria, terkadang terlalu percaya diri bisa merubah pasangannya. Tidak berani berkata jujur juga karena takut kehilangan.

Nisa : Konon wanita memang tulang rusuk bengkok dalam diri pria. Tugas pria itulah untuk meluruskannya. Namun tidak bisa represif, karena malah akan mematahkannya.

Shana : Iya ya, kita wanita memang sering belok-belok. Tidak turut kata suami, jadi suami tergoda cari yang lain yang nurut. *tergelak*

—–

Reuni, 1 Oktober 2025

Shana: 15 tahun menjanda, aku takut menikah lagi. Tapi hidup sendiripun ternyata bukan pilihan menyenangkan. Awalnya enak bisa melakukan apa-apa sendiri, kongkow dengan teman-teman, mewujudkan mimpi-mimpi. Namun ada satu titik dimana teman tidak bisa bersama kita terus menerus. Satu titik dimana kita merasa letih dan butuh bersandar. Sekarang aku merasa letih sendiri. Mungkin aku harus lebih banyak berdoa, memantaskan diri dihadapan Tuhan. Agar Dia merasa aku pantas untuk diberikan pasangan hidup lagi.

Maria: Serupa denganku. Kadang aku menyesali, mengapa begitu mudah mengakhiri pernikahan ku dahulu. Padahal ternyata tidak mudah mencari yang lebih baik. Seandainya dulu aku lebih dewasa menyikapi hubungan. Lebih sabar dan menghormati lelaki itu.

Lulu : Alhamdulillah, pernikahan kami masih berjalan baik. Tidak mudah memang. Badai selalu ada. Tapi setiap ingin menyerah, kembali teringat niat menikah dulu untuk menjadi manusia yang lebih baik. Nampaknya pernikahan telah menjadikan kami tumbuh dewasa bersama.

Nisa : Iya, ini sekolah yang tidak pernah usai. Belum lulus kecuali salah satu meninggal. Setiap saat harus terus belajar mengelola pernikahan agar tetap hangat dan menyenangkan. Rasanya memang terkadang letih, tapi kalau ingat kehangatan rumah, ada suami tempat menyandarkan letih (dan sebaliknya), anak-anak yang beranjak dewasa dengan segala prestasinya, selalu ada tempat untuk pulang, rasanya semua kesulitan itu tidak sebanding dengan kebahagiaan yang ada saat ini.

Anang: pernikahan ~ less expectation, less dissapoinment. Ketika berniat untuk menikah, kita harus mencoba meng’nol’kan diri dari harapan berlebihan. Jangan membebani pasangan dan diri kita dengan harapan yang muluk-muluk tentang pernikahan. Cinta memang indah, tapi tidak cukup untuk mempertahankan pernikahan. Seseorang yang bisa mengerti dan menerima apa adanya, kala susah dan senang (dan sebaliknya) adalah kuncinya. Komunikasikan segala hal, agar ekspektasi keduabelah pihak menjadi sejalan. Puji tuhan pernikahan ke dua ku langgeng hingga saat ini.

——–

terinspirasi dari buku kupinang engkau dengan Bismillah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s