Alhamdulillah Hujan..

Turunlah yang deras. Basahi pekaranganku hingga tanah melunak kembali.

Hujan..
Jangan lupa, besok datanglah lagi.
Lihatlah pohon mangga dan rambutan ku. Rumpun buah-buah kecilnya mulai muncul. Namun beberapa buah mulai berubah warna. Menguning, kemudian coklat. Kurasa karena mereka rindu kamu, hujan.

Hujan turunlah yang deras..
Agar mangga dan rambutan ku berbuah lebat, seperti Desember tahun lalu dan beberapa tahun sebelumnya.

Hujan..
Tahukah kamu, betapa aku merindukan Desember?

Karena disaat itu mangga dan rambutan yang rutin kau sirami, akan siap dipanen.

Hujan..
Tahukah kamu, betapa tidak sabarnya aku ingin memanen mangga dan rambutan?

Karena hanya saat itulah aku punya alasan bertemu dengannya,
anak lelaki disebelah rumah. Bunda biasa minta pertolongannya untuk memanjati pohon mangga dan rambutan. Memetik buahnya yang bergerandul lebat.

Dia anak lelaki seumurku, dengan kacamata lucunya. Mestinya dia nampak seperti kutu buku, tapi jangan tanya kalau dia sedang bergelayutan di atas pohon, lincah tiada tanding.

Aku tak sabar ingin melihat wajah sumringahnya, memberikan mangga dan rambutan yang pertama dipetiknya untukku. Katanya upeti untuk Tuan Puteri.

Hujan..
Datanglah lagi ya. Apapun yang terjadi, jangan biarkan buah-buah kecil ini rontok tidak bisa dipanen. Datanglah lagi, demi panen mangga dan rambutanku. Datanglah lagi, demi bisa kulihat dia memanggilku Tuan Puteri lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s